Seribu Mesjid Satu Jumlahnya

Posted: July 19, 2012 in Poets-poems
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Emha Ainun Najib, 1987
 
Satu
Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunya
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu
 
Dua
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati
 
Tiga
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma
Membisikkan nama Allah Ta’ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beritikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna
Tubuh kita bertakbir
Ruh mengaguminya tanpa suara
Ruh bersembahyang tanpa gerak
Menjerit dengan mulut sunyi
 
Empat
Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gampang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa bumi ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya
 
Lima
Masjid ruh kita bawa ke mana-mana
ke sekolah, kantor, pasar, dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorangpun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab masjid ruh adalah semesta raya
Jiwa kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika terjun memasuki genggaman-Nya
Mereka menembak hanya bayangan kita
 
Enam
Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk ke kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mngangkut kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di haribaan cinta-Nya.
 
Puisi pelembut jiwa menjelang Ramadhan 1433

Chopin Larung

Posted: June 8, 2011 in ke-Indonesiaan

Komposisi ini adalah salah satu komposisi terbaik yang diciptakan pada tahun 1975 oleh Guruh Soekarno Putra. Liriknya dalam bahasa Bali yang intinya bercerita tentang kegelisahan seorang seniman yang disimbolkan dengan “Chopin”, nama seorang komposer Barat ternama karena rusaknya budaya bangsanya (baca: Bali/ Indonesia) akibat westernisasi. Komposisi ini demikian progresif karena ia mengambil sebagian dari komposisi “Fantasia Impromptu” karya Fryderyk Franciszek Chopin yang disandingkan secara elegan dengan gamelan Bali arahan I Gusti Kompyang Raka, pengrawit sohor di Bali kala itu. Komposisi ini dinamai “Chopin Larung” yang berarti Chopin Dihanyutkan. Meskipun lagu ini diciptakan lebih dari 30 tahun yang lalu akan tetapi komposisinya demikian indah dan lirik sendunya masih sangat relevan hingga kini. Sungguh jauh kualitas komposisi ini jika dibandingkan lagu-lagu Indonesia saat ini yang menurut saya mayoritas “cengeng”. Berikut lirik lengkap Chopin Larung beserta artinya:

CHOPIN LARUNG

Yen Chopin padem ring Bali (Jika Chopin meninggal di Bali)
kerarung saking Daksina (dihanyutkan dari Selatan)
Titiang mengenang Bali (Diriku mengenang Bali)
sunantara wong ngrusak – asik negara (sementara orang mengganggu negara/bumi)

Sang jukung kelapu – lapu (Perahu terombang-ambing)
santukan Baruna kroda (karena dewa laut murka)
Nanging Chopin nenten ngugu (Namun Chopin tiada memahami)
kadang ipun ngrusak seni – budaya (kadang bangsanya merusak seni budaya)

Risedeg sang jukung kampih (Ketika sang perahu terdampar)
ring Legian – Kayuaya (di Legian-Kayuaya)
‘te – lonte ring sisin pasih (pelacur di pinggir pantai)
anak lacur melalung ngadolin ganja (orang miskin telanjang menjual ganja)

Chopin ten uning ring Bali (Chopin tidak tahu mengenai Bali)
wong putih mondok ring Kuta (orang putih (bule) tinggal di Kuta)
Asing lenga lali ring Widi (Lupa pada Tuhan)
tan urungan jagi manemu sengkala (tak urung bakal menemui malapetaka)

Gending Chopin maring ati (Lagu Chopin di hati )
nabuhang wirama duka (melantunkan irama duka)
Duh nyama braya ring Bali (Duh, saudara-saudara di Bali)
dong sampunang banget nunaning prayatna  (tolong jangan terlalu…..)

Lagu/Syair : Guruh Soekarno Putra
Saduran : Guruh
Jakarta, 1975

Judul: Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015; Memperkuat Sinergi ASEAN di Tengah Kompetisi Global
Editor: Sjamsul Arifin, Rizal A. Djaafara, Aida S. Budiman
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal: 338 Halaman

Derasnya paham globalisasi dan kesuksesan integrasi ekonomi Eropa dalam bentul pasar tunggal yang digodok sejak 1950-an sedikit banyak menginspirasi wilayah lain. Asia Tenggara menjadi wilayah yang kemudian mengikuti langkah ini. Isu integrasi ekonomi ASEAN mulai dipelajari tahun 1997 ketika badai krisis ekonomi global menerpa. Negara-negara anggota ASEAN berharap Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bisa menjadi fondasi kokoh ketika diwujudkan enam tahun mendatang. ASEAN sangat berkepentingan membentuk pakta ekonomi yang kokoh, saling melindung dan bersifat timbal balik karena kawasan ini adalah pasar dan wilayah investasi terbesar dari negara-negara industri. Tentu saja di luar kepentingan ekonomi, geopolitik Asean kini semakin penting karena menjadi kawasan perimbangan kekuatan Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Rusia dan China. Satu negara yang bergantung namun terkesan gengsi melakukan pendekatan dalam taraf setara adalah Australia yang berada di utara. Tanpa ASEAN, Australia akan menjadi benua mini yang terasing.

Tahun 2007, di usia ke-40, 10 negara-negara Asia Tenggara menyepakati Piagam ASEAN dan Cetakbiru ASEAN menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-13 di Singapura. Penandatangan Piagam ASEAN ini akan menandai babak baru ASEAN menuju sebuah organisasi dengan komitmen bersama yang mengikat secara hukum. Sedangkan cetakbiru MEA akan memberikan arah bagi perwujudan ASEAN sebagai sebuah kawasan basis produksi dan pasar tunggal. Pencapaian MEA ini dilakukan melalui lima pilar, yaitu: aliran bebas dari barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas. Upaya mewujudkan ASEAN sebagai kawasan basis produksi dan pasar tunggal ini tentu saja memberikan banyak peluang sekaligus tantangan yang besar bagi Indonesia.

Tak optimistis

Buku setebal 338 halaman ini berusaha memberikan gambaran agenda besar ASEAN di bidang ekonomi dan perdagangan ini. Maklum waktu untuk mewujudkan hal ini termasuk singkat di tengah kendala ekonomi saat ini.Namun ketiga editor buku ini Sjamsul Arifin, Rizal A. Djaafara dan Aida S. Budiman tak membuat buku ini sebagai referensi yang pesimistis. Sebaliknya buku ini mengajak pembaca belajar dari fakta dan realita. Semua pihak tahu betul pesoalan mewujudkan MEA justru terletak pada institusi ASEAN yang ada tidak cukup memiliki kewenangan atau otoritas dalam menentukan berbagai kebijakan ekonomi.

Lewat studi kasus Uni Eropa, buku ini berusaha menyampaikan bahwa titik lemah MEA ada pada lemahnya koordinasi lintas sektoral terutama mekanisme fasilitasi perdagangan untuk memperlacar arus barang, mengurangi biaya tinggi serta meningkatkan efisiensi. Dalam kaitan ini, sektor-sektor utama yang memerlukan pembenahan adalah transportasi dan komunikasi serta bea-cukai. Tanpa pembenahan ketiga sektor ini, upaya pencapaian target 2015 akan terasa amat sulit. Satu contoh jelas adalah hambatan di sektor jasa yang gagal dipecahkan ASEAN Secretariat yang memang kurang diberi kewenangan dalam pengambilan keputusan untuk mendorong laju integrasi ekonomi.

Namun di tengah rencana besar ini, MEA juga menyimpan kegundahan bagi Indonesia untuk mampu bersaing sederajat dengan anggota ASEAN lain terutama kemampuan SDM Indonesia. Apakah sudah siap para petani Indonesia untuk bersaing dengan para petani dari Thailand dan Vietnam yang sukses membanjiri pasar domestik dengan produk mereka yang murah dan lebih berkualitas. Begitu juga industri tekstil Indonesia yang masih megap-megap digempur produk China. Sejauh ini industri tekstil Vietnam, Kamboja, dan Malaysia masih di atas angin. SDM Indonesia secara umum diakui atau tidak masih tertinggal. Bahkan untuk sumber daya pembantu rumah tangga pun, Indonesia kalah dengan Filipina yang lebih profesional.

Buku ini bisa dengan dingin menganalisis dan menjelaskan apakah Indonesia akan menjadi sekadar penonton atau menjadi pemain yang diperhitungkan negara-negara lain ASEAN. Jelas dari statistik yang disodorkan termasuk menakutkan.

http://aergot.wordpress.com/

I wish you enough sun to keep your attitude bright no matter how gray the day may appear..

I wish you enough rain to appreciate the sun even more..

I wish you enough happiness to keep your spirit alive and everlasting..

I wish you enough pain so that even the smallest of joys in life may appear bigger..

I wish you enough gain to satisfy your wanting…

I wish you enough loss to appreciate all that you possess..

I wish you enough hellos to get you through the final good- bye..

http://paulocoelhoblog.com/2011/02/14/i-wish-you-enough/

 

 

 

 

 

 


Dalam teori Du Contract Social dari Rousseau, masyarakat bersepakat untuk mengorganisasi diri, melakukan suatu kontrak sosial, kepada satu instrumen bernama negara. Inti dari kontrak sosial itu adalah jaminan atas security and prosperity (keamanan dan kesejahteraan). Apapun bentuk negara dan bentuk pemerintahannya, masyarakat tidak akan mempermasalahkan asalkan security and prosperity mereka terjamin. Barangkali hal ini bisa menjelaskan mengapa masyarakat merasa lebih senang ketika Orde Baru memimpin dibandingkan Orde Reformasi yang sekalipun menjamin kebebasan berpendapat belum bisa memberikan kecukupan. Jika kita berpijak hanya pada teori security and prosperity di atas, maka barangkali sudah tidak layak lagi kita mempertahankan ikatan kita sebagai bangsa dalam suatu negara bernama Indonesia. Akan tetapi melihat perkembangan dunia belakangan, kita perlu merevisi skeptisisme tersebut. Globalisasi mau tidak mau mengajarkan kita tentang keberdayaan melalui komunitas. Di dunia tanpa sekat ini kita dituntut untuk memiliki suatu komunitas yang berdaya dan melaju bersama. Kompetisi akan berlangsung sangat ketat dan hanya akan dimenangkan oleh orang-orang yang terorganisir dalam jaringan yang rapi.

Bangsa ini seharusnya bisa menjadi bangsa yang besar. Bayangkan, dengan luas negara lebih dari 6.000.000 km2 terdiri dari kurang lebih 4.000.000 km2 perairan dan 17.508 pulau besar dan kecil, dengan jumlah penduduk 230 juta-terbesar keempat setelah Cina, India, dan Amerika-atau setara dengan total penduduk 22 negara Arab jika dikumpulkan menjadi satu, maka Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi tempat lahirnya peradaban baru atau minimal menjadi semacam benua baru. Seandainya unsur-unsur peradaban baru seperti yang dikatakan Malik bin Nabi adalah tanah, waktu, dan manusia, maka Indonesia hampir melampaui ketiganya. Dari segi luasnya tanah dan jumlah manusia jelas bangsa ini berada dalam kelimpahan. Barangkali hanya masalah waktu yang belum menjadikan bangsa ini menjadi bangsa besar, waktu untuk meningkatkan kapasitas manusia Indonesia untuk mengelola “tanahnya”. Namun, sekali lagi jarak waktu sekarang juga telah dipersempit oleh globalisasi dengan kecepatan akses dan informasi ke seluruh penjuru dunia melalui internet. Waktu bukan lagi masalah utama, ia hanya berfungsi sebagai variabel penguji kelanggengan atau konsistensi.

Bangsa ini sekali lagi memiliki potensi untuk terus tumbuh dan besar. Banyak hal yang selama ini kita anggap sebagai persoalan, justru bisa menjadi peluang besar bagi kita untuk maju sebagai pemimpin bangsa-bangsa. Contohnya kemajemukan. Logika sederhananya adalah jika kita mampu menyatukan visi 300 etnis di seluruh Indonesia yang semua berbeda adat istiadat, bahasa, dan budayanya, maka bukanlah hal yang sulit untuk kita menjadi pemersatu bahkan pemimpin di antara bangsa-bangsa di seluruh dunia yang berbeda bahasa, budaya, dan adat istiadatnya. Yang kita perlukan pertama adalah melihat diri kita sendiri-sebagai bangsa-dengan kacamata yang lebih positif dan optimistik. Singapura adalah komunitas kecil yang percaya diri, Cina adalah komunitas besar yang mampu membalikkan kelemahan terbesarnya-jumlah penduduk-menjadi keunggulan utamanya, Amerika yang tak memiliki kelimpahan sumber daya dengan sangat percaya diri mengangkangi minyak di Timur Tengah. Lalu mengapa kita yang memiliki semuanya masih tak percaya diri sebagai sebuah komunitas?

Hal berikutnya yang kita perlukan untuk menjadi bangsa besar adalah memperbaharui ikatan kita sebagai bangsa. Ada tiga ikatan yang bisa menjadikan suatu bangsa menjadi bangsa besar. Pertama, ikatan ideologi atau visi, kedua ikatan teritorial, dan ketiga ikatan sejarah. Sejarah mengajarkan bahwa para founding fathers kita pernah berhasil menyatukan bangsa ini. Sumpah Pemuda 1928 sebagai pernyataan penyatuan kebangsaan dikonklusi oleh Proklamasi 1945 sebagai pernyataan kesatuan visi bangsa ini yaitu Indonesia Merdeka. Orde Baru, terlepas dari baik buruknya rezim tersebut juga memiliki visi yang menyatukan bangsa yaitu Pembangunan Indonesia. Jadi pertanyaan berikutnya adalah apa visi para pemimpin di era Reformasi agar kita mampu tampil sebagai bangsa yang besar? Jawabannya barangkali kembali pada persoalan security and prosperity (keamanan dan kesejahteraan). Realitas praksis dunia global kapitalis mendorong hampir semua komunitas untuk mewujudkan dua hal di atas sebagai pengikat komunitasnya. Kesejahteraan yang dimaksud di sini adalah kesejahteraan lahir batin; tercukupi kebutuhan lahir batin, keberdayaan dan kemandirian individu dan komunitas, sehingga tiap orang merasa perlu dan butuh untuk melekatkan diri dalam suatu komunitas bernama bangsa beserta kelekatan hak dan kewajiban yang menyertainya.

di permukaan renungan, Jakarta 2008

Rumi’s on Human

Posted: January 21, 2011 in Poets-poems
This being human is a guesthouse
Every morning a new arrival
A joy, a depression, a meanness,
Some momentary awareness comes
as unexpected visitor
Welcome and entertain them all !!
Even if they’re a crowd of sorrows,
who violently sweep your house
empty of its furniture,
still, treat each guest honorably.
He may be clearing you out
for some new delight
The dark thought, the same, the malice,
meet them at the door laughing,
and invite them all in
Be grateful for whoever comes,
because each has been sent
as a guide from beyond….

 

 

Hujan abu masih turun tipis di luar jendela ketika saya menulis ini. Limabelas jam yang lalu, jam 19.30, 4 November 2010, sedikit heran ketika ambulan jemputan tiba di rumah on time, saya dan rekan dari Puskesmas berangkat tugas jaga pos kesehatan Hargobinangun. Cuaca mendung, nyaman menyeka kering abu yang membedaki Beran (ibukota administratif Sleman), perlahan kami berangkat melintasi desa-desa menuju Hargobinangun, 17 km dari puncak Merapi. Harapan yang cerah, jaga malam santai, cuaca dingin yang nyaman, plus minum susu dan obrolan hangat di pos kesehatan menanti kami. Setidaknya itu bertahan sampai 1/4 perjalanan, ketika memasuki wilayah Ngaglik, 25 km dari puncak Merapi, kabut menyergap kami. Aneh, kabut di jarak sejauh ini dari gunung. Kabut yang aneh pula, tidak dingin dan sejuk, tapi pucat, kering, pengap, tak bergerak, dan terasa sangat berat untuk ditembus. Kabut serupa yang saya jumpai mengawali hujan pasir erupsi besar Merapi Sabtu dini hari lalu. Pikiran saya melayang jauh ke pos tujuan kami, amankah?. Di benak saya, jangan-jangan Hargobinangun dan 5000 penghuninya sudah tenggelam dalam pasir seperti kota Pompeii. Dan kami telusuri lembah-lembah gelap desa terakhir dengan pikiran kelam. Hingga kilometer terdekat dengan barak pengungsian Hargobinangun kabut diam itu masih sangat pekat. Di tepian jalan Kaliurang, satu kilometer di bawah barak, tampak stasiun TV swasta sedang live di tepi jalan, agaknya menyadari juga fenomena aneh setelah hujan seharian itu. Semoga mereka tidak membuat berita menyesatkan seperti kemarin. Cukup melegakan. Lebih melegakan lagi ketika beberapa ratus meter kemudian kabut itu menipis, teriring ramai cahaya balai desa Hargobinangun, barak pengungsian terbesar dan terkokoh dari barak lain.

Pukul delapan malam namun barak sudah sepi. Dipeluk kabut yang berubah menjadi hujan abu ringan, nampaknya semua pengungsi terbaring nyaman beristirahat di 3 komplek bangunan permanen yang tersedia (balai desa, gedung SD dan SMP, dan bangunan khusus barak raksasa hasil cicilan masyarakat Pakem). Dan pos kesehatan, markas besar kami, masih tampak serupa, penuh tumpukan obat yang terlalu lengkap karena banyak sponsor, catatan resep tak jelas, register setumpuk, dan kardus-kardus masker, dan anggota-anggota Tagana yang bercengkerama. Menyenangkan jaga malam di pos kesehatan Hargobinangun akhir-akhir ini, tenang, tidak begitu berjubel pasien. Beruntung kami dengan adanya beberapa pos kesehatan LSM yang didirikan di sudut-sudut lain barak, beban berkurang, hanya cukup sedikit koordinasi, obat mereka yang lebih lengkap dan coverage pasien maksimal. Hingga untuk ukuran Puskesmas yang dipindah ke barak, kami bisa bersantai, jalan-jalan, dan tidur tentu saja. Dan anggota-anggota Tagana (Taruna Siaga Bencana) yang memiliki bench tepat di depan bench kami itulah pelampiasan keisengan. Kebetulan topik malam itu ketawa ala Bernard Bear, dan ternyata mereka fasih menirukan gaya siberuang gendut tersebut, sepertinya semalaman kami akan berhaha hihi. Getaran dan gemuruh merapi tak pernah henti terdengan sejak saya tiba. Akhirnya terbiasa, baik pengungsi maupun saya, dengan bunyi seperti dentum, deru dan guntur bersambungan yang membuat kaca berderak, hingga menggetarkan badan yang diam.

Jam menunjukkan pukul 23.30 ketika beruang-beruang di pos kesehatan menggelar kasur dan membaca doa pengantar tidur, berharap semua tenang. Semua terlelap, kecuali saya yang memang tak mudah tidur di kondisi tersebut. Saya mencoba mengabaikan, tapi menjelang pukul 00.00 saya rasakan bunyi gemuruh itu semakin keras, semakin dekat, semakin mengguncang. Agaknya beberapa rekan dan pengungsi juga merasakannya. Mereka berjalan dan berkumpul di halaman luar balai desa. Saya bangkit, memakai sepatu dan menatap mereka dari selasar pos kesehatan. Tampak kepala desa dan koordinator barak sibuk mengontak HT, sesaat kemudian tiba-tiba mereka berlari menuju beberapa barak, diikuti anggota-anggota TNI. Saya masih berdiri di depan pos kesehatan, terheran dengan gemuruh yang makin mengeras, dan mulai curiga ketika kabut aneh serupa ketika saya tiba muncul kembali dan memekat. Tiba-tiba terdengar keributan, pengungsi di barak terdekat berhamburan keluar menuju jalan,semakin banyak yang menghambur keluar.Satu yang melintas saya hentikan, dan pertanyakan kenapa, jawaban menghambur dalam kepanikan “dok, semua pengungsi diminta segera turun ke stadion Maguwoharjo!” Maguwoharjo??!! sungguh tak masuk akal menurut saya, bukankah itu di tepian kota? 25 kilometer lebih evakuasi masif ribuan orang dalam hitungan menit!!?? Kepanikan menyeruak, barak Hargobinangun yang semula lelap sontak bangun dalam histeria ancaman bencana. Pengungsi berlarian ke jalan, menaiki angkutan apapun yang kebetulan berada. Puluhan TNI yang tegar tak kuasa menahan 5000-an orang yang berhamburan, dalam teriak dan tangis, berebut kendaraan. Truk, bus, mobil, pikap, pengangkut pasir sekejap penuh sesak dengan manusia, berdesakan, berebutan, saling himpit. Carut marut suasana panik, tangis bercampur dengan teriakan memanggil dan mencari sanak keluarga. Sepasang manula berpakaian lusuh seadanya, berusaha berlari menuju jalan masing-masing tangan penuh memegang kardus, tikar dan bungkusan; hebatnya mereka masih berusaha berpegang tangan. Seorang lelaki renta, lupa tak menenteng apa-apa, berdiri kebingungan melihat perebutan sudut ruang angkutan yang tersedia, mematung tanpa bisa berkata; hingga beberapa anggota TNI mengangkatnya ke atas truk bak terbuka. Anak-anak menangis, tak tahu apa yang diperbuat orang tuanya, menyeret mereka dari tidur lelapnya. Semua teriak menenangkan tenggelam dalam badai kepanikan, hingga serak suara dan kami tertunduk putus asa. Bayangkan, dalam 20 menit 5000 orang telah bergerak dalam muatan penuh sesak yang penuh tangis.. Dua orang jompo yang tak dapat berjalan menjadi jatah evakuasi kami, ambulan yang penuh sesak beranjak pelan menjadi angkutan pengungsi terakhir. Tatap mata nanar sang kakek menatap balai pengungsian yang sekian hari telah dihuninya, ruang-ruang yang semula riuh tampak senyap, pintu-pintunya ditutup dan dikunci oleh TNI dan Tagana terakhir yang pemberani. Barang-barang pengungsi tampak berceceran,di dalam maupun di halaman, terserak pula dalam kenangan. banyak diantara mereka yang hanya membawa baju yang mereka pakai.

Dalam senyap, ambulan kami melaju, dan hujan turun perlahan… setidaknya bila memang itu dapat disebut hujan. Semula memang tetes air yang menyentuh lengan, namun beberapa saat kemudian tetes itu menghitam dan berubah menjadi bulatan-bulatan besar tepat saat kami memasuki ambulan, 15 menit setelah rombongan utama berangkat. Kemudian bukan lagi air yang jatuh dari langit, namun lumpur bercampur kerikil. Ambulan yang bergerak pelan, berjalan semakin pelan karena penyeka kaca depan tak mampu menepis hujan lumpur. Sesekali kami berhenti, menyiramkan air mineral kemasan ke kaca depan, sekalipun sekian detik kemudian kaca itu sudah terpekati pasir kembali. Menit demi menit kami merangkak turun, ke selatan, menjauh dari sumber petaka. Memasuki distrik Pakem, 3 km di bawah Hargobinangun, kami baru menyadari bahwa wilayah itu sudah seperti kota mati, listrik padam, hanya pengendara sepeda motor berjajar di emper toko karena tak kuat menembus hujan lumpur. Kemacetan terjadi di ketika melewati kampus UII 4 km kemudian, agaknya para mahasiswa panik dan berebut mengungsi ketika mengetahui rombongan utama pengungsi Hargobinangun melintas. Jalan utama penuh, benturan antar kendaraan tak ayal terjadi. Terjebak dalam kecepatan nol, kami pasrah. Saya hanya menatap kaca mobil yang tak mampu meneruskan pandang. Gurat-gurat lumpur di balik kaca mengalir, sebagaimana air mata ribuan pengungsi di kendaraan bak terbuka, menembus siraman lumpur pasir dan kerikil, meniti kilo demi kilo yang berlalu begitu pelan. Dan benar bahwa waktu terasa bertahun untuk hal yang tak kita sukai.. Duapuluhribu pengungsi bergerak sekaligus menembus malam badai. Entah berapa ratus pengungsi yang tercerai dari keluarganya dan berapa lagi yang mengalami kecelakaan di perjalanan mengerikan sekaligus menakjubkan ini..

Lebih dari satu jam perjalanan kami memasuki pinggiran kota, melintas ringroad menuju Stadion Maguwoharjo. Hujan tak turun sejak kami mendekati kota, tapi debu vulkanik pekat menghambat pandang. Saya belum pernah datang ke stadion itu, hanya mengamati foto, stadion baru yang agak tersendat pembangunannya, landskap absurd di tengah pemukiman penduduk suburban, yang belum disetting sebagai barak pengungsian. Namun bayangan kelam saya sontak hilang ketika cahaya kemilau itu muncul di depan kami. Layaknya bahtera di lautan kelabu, bangunan besar itu terapung bercahaya, begitu cerah, begitu hangat. Perlahan kami mendekat. Tiga lantai, penuh manusia, dan masih juga dikitari manusia dan kendaraan. Puluhan petugas menyambut dan mengarahkan kami. Perjalanan hitam berakhir, entah kenapa badan kami yang diberati pasir dan debu, seolah terlepas dan menjadi ringan, sangat ringan.. Entah kenapa, dalam kondisi seperti itu rasa lelah sama sekali tak terasa. Selepas dropping pasien bawaan di ruang observasi, saya masih meneruskan pemeriksaan dan pengobatan umum hingga siang menjelang. Pepatah kuno bilang, manusia lebih cepat letih bila sedang aktivitas bersenang-senang.. benarkah? HT berteriak, mengabarkan banyak korban tewas di Argomulyo, Cangkringan..

Ya, mengungsi adalah dilema. Mudah bagi mereka berkata “sudah disuruh mengungsi tetap bandel”.. mungkin sang pemberi komentar tersebut sekali waktu perlu mengalami menjadi dan merasakan hidup sebagai pengungsi Merapi. Dan benar, masalah utama mobilisasi mendadak masif tentu saja terpecahnya keluarga. Semenjak pagi, pengeras suara lebih banyak menyerukan nama orang-orang yang mencari anggota keluarganya. Stadion Maguwo yang tak pernah memiliki perlengkapan barak pengungsian disulap menjadi barak seadanya. Pengungsi tak berharta benda duduk juga seadanya di lantai tanpa alas, setidaknya mereka lega sudah jauh dari bahaya dan keluarga lengkap disisi mereka. Tenaga kesehatan pontang-panting menyusun pos Triase dan klinik darurat, dengan obat dan SDM tercecer entah kemana, beruntung ratusan relawan kesehatan maupun non-kesehatan tetap setia bersama kami, keikhlasan mereka takkan pernah terbeli. Entah sampai kapan amukan Merapi menjadi, entah sampai kapan ribuan pengungsi terdampar di sini, tanpa bekal, jauh dari rumah dan ternak yang mereka sayangi.

(Ini adalah salah satu kisah nyata, kesaksian dari seorang dokter Puskesmas, yang didapatkan dari sebuah milis)